Sunday, December 20, 2009

Ajari Aku Ya Alloh

Lupa, ini teh tulisan kapan ya? atau copas dari tulisan temen ya:D


Ajari Aku Ya Allah...


Allah ...

Ajarilah aku tuk terus bersyukur

Bahkan sampai diriku ada dalam keadaan

Paling teraniaya

Ajarilah aku agar terus menjadi orang baik

Bahkan ...

Ketika dunia sekalipun tak sanggup lagi tersenyum


Ajari aku ya Allah ...

Agar selalu bisa tertawa

Setelah menangis

Agar selalu bangkit

Setelah kejatuhan

Agar bisa terus berjalan

Walau aral melintang

Di depan sana

Agar tidak pernah menyerah

Walaupun hampir mati


Ajari aku ya Allah ...

Agar tidak pernah kehilangan cinta

Agar tidak kehilangan kepercayaan

Bahwa masih ada hal-hal baik

Di dunia ini

Yang masih patut diperjuangkan


Ajari aku ya Allah ...

Agar aku tidak menjalani hidup ini

Dengan sia-sia ...


------------ --------- --------- --------- --------- --------- -


Ya Allah...

Jangan biarkan kebencianku pada orang-orang yang menyakiti-ku, membuat diriku zalim...

Tapi jadikanlah musuhku adalah guru kehidupanku. .. agar aku bisa belajar janganlah mencontoh perbuatan mereka.

Berikanlah aku kelapangan hati dan kejernihan berpikir, agar aku sukses mengolah jiwa menjadi hamba yang tenang.

Agar hati ini dipenuhi rasa cinta & kasih sayang pada sesama, termasuk mengasihi musuh-musuh- ku...

Ya Allah apakah aku bisa memiliki sifat itu ?

Yang aku tahu itu adalah sifat orang-orang suci seperti Nabi Muhammad, Nabi Isa atau bahkan Sang Budha Sidharta Gautama.


Hari ini aku ingin menangis, untuk melepas sejenak kepenatan diri dalam menghadapi proses kehidupan.

Duch Gusti Allah mohon ampuni aku atas segala salah dan dosa dari akil baligh hingga saat ini.

Aku mohon Ya Allah...

Putuskan rantai kejelekan yang ada padaku tidak menurun ke anak cucuku kelak.


Semoga Allah SWT karuniakan kepada kita keikhlasan tiada batas dan kekuatan untuk senantiasa melanggengkan setiap amal soleh yang telah, sedang dan yang akan kita kerjakan.


Berikan aku ketenangan Ya Allah!!!!

Berikan aku ketenangan. agar aku dapat meneruskan hidup di muka bumi mu ini..

Wednesday, December 9, 2009

10 KESALAHAN MANAGER DAN BAGAIMANA MENGHINDARINYA


oleh: Wolf J. Rinke, PhD, CSP

Ketimbang bertele-tele, kita langsung ke pokok persoalannya saja. Berikut
ini adalah 10 kesalahan yang paling banyak dilakukan oleh manajer, serta
bagaimana kita bisa menghindarinya.

10. Tidak mempercayai karyawan.
Jika anda terus-menerus tidak mempercayai karyawan, anda hanya benar
sebanyak 3% saja. Namun jika anda selalu mempercayai karyawan anda, sampai
terbukti bahwa anda keliru, maka anda menghabiskan waktu anda sebanyak 97%
untuk melakukan hal yang benar. Maka mengapa kita tidak melakukan hal yang
benar saja? Mempercayai karyawan akan memberikan hasil yang luar biasa
positif bagi organisasi anda.

9. Menghabiskan terlalu banyak waktu di kantor.
Dalam sebuah seminar, saya bertanya pada para manager: berapa di antara anda yang tak mempunyai masalah? Tentu saja, tak ada yang mengangkat tangan. Kemudian saya bertanya lagi: kepada siapa anda mencari jawaban? Jika anda menjawab: kepada customer dan karyawan, anda benar. Maka, mengapa anda lebih banyak menghabiskan waktu di kantor anda sendiri? Anda takkan mendapatkan jawaban apa-apa jika anda berdiam di kantor anda. Untuk mendapatkan jawaban atas persoalan, anda harus menghabiskan waktu setidaknya 66% untuk mempraktekkan management by walking around.

8. Memuaskan customer.
Jika anda berusaha memuaskan customer, anda akan segera terlempar dari
bisnis anda. Mengapa? Karena hanya dengan melampaui harapan customerlah,
customer akan mengingat anda dan perusahaan. Jika tidak, mereka akan
melupakan anda dan tidak akan mempertimbangkan anda lagi. Mereka akan
memilih produsen lain untuk memenuhi kebutuhan mereka.

7. Mencari-cari kesalahan karyawan.
Mungkin anda akan protes, bukankah ini adalah tugas manager? Memang benar,
tapi jika anda berasal dari generasi tua manajemen, dan jika anda ingin
merusak efektivitas anda sendiri. Alasannya: anda sebagai manajer semestinya
tahu bahwa harapan-harapan anda baru akan tercapai dalam jangka waktu
panjang. Jika anda ingin menyuntikkan energi tinggi dalam organisasi,
semestinya anda memusatkan energi anda untuk memergoki karyawan melakukan hal yang benar. Maka, anda melakukan manajemen dengan penghargaan, bukan dengan perkecualian.

6. Menghabiskan banyak waktu dengan si biang kerok.
Coba perhatikan agenda anda selama beberapa hari ini. Jika anda menghabiskan
waktu dengan si biang kerok perusahaan lebih dari 5% waktu anda, maka anda
menyia-nyiakan waktu anda sana. Anda mendapatkan apa yang anda perhatikan.
Jika anda hanya memperhatikan si biang kerok, anda akan mendapatkan biang
kerok. Jika anda menghendaki kinerja perusahaan yang tinggi dan positif,
anda harus menghabiskan sebagian besar waktu anda dengan orang-orang yang
mampu mewujudkan hal tersebut.

5. Tidak banyak melakukan pelatihan dan pengembangan SDM.
Riset mengatakan bahwa perusahaan yang berkinerja tinggi justru mengalokasikan investasi mereka sebanyak3,5-5% untuk pengembangan sumber
daya manusianya, melalui pendidikan dan pelatihan. Sebenarnya tidak ada hal
yang ajaib dalam hal ini. Jika anda ingin perusahaan anda berjalan lebih
baik, anda harus memiliki karyawan yang lebih baik pula.

4. Menumpuk-numpuk kekuasaan.
Jika anda ingin meningkatkan kekuasaan anda, anda justru harus menguasai
seni membagi-bagikannya. Jika anda tidak berkenan membagikan kekuasaan, anda tidak memberi kesempatan orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Artikel di Wall Street Journal tahun 1997, menunjukkan bahwa 30% karyawan merasa bahwa minat mereka diabaikan oleh manajer yang berkuasa mengambil keputusan yang mempengaruhi mereka. Angka ini melonjak dibanding tahun 1996, sebesar 25%. Ingat-ingatlah selalu untuk menekan pengambilan keputusan hingga ke level yang paling bawah.

3. Downsizing.
Kebanyakan manajer menyukai downsizing, alias penciutan organisasi. Mengapa,
karena tampaknya inilah cara paling cepat untuk menaikkan laba perusahaan.
Dengan demikian, manajer akan mendapatkan bonus lebih bsar. Aha! Melakukan
penciutan untuk mendapatkan bonus? Riset menunjukkan bahwa dalam jangka
panjang, perusahaan yang melakukan downsizing justru lebih tidak profitable.
Study selama tujuh tahun yang dilakukan oleh Universitas Colorado membuktikan bahwa perusahaan yang melakukan downsizing bisa melipatgandakan pendapatan selama 3 tahun. Tetapi, perusahaan sejenis yang tidak melakukan
downsizing justru meng-empat lipat gandakan pendapatan mereka dalam periode
yang sama. Intinya: perusahaan anda meraih competitive advantage melalui
orang, bukan dengan mengusir mereka dari organisasi.

2. Membuat kerja tampak berat.
Apakah anda suka bersenang-senang? Tentu saja! Jadi, mengapa banyak manajer yang menjadikan pekerjaan sedemikian berat dan menyakitkan untuk dikerjakan. Lihat saja survey yang mengatakan bahwa 25% karyawan Amerika Serikat membenci pekerjaan mereka, 56% dengan terpaksa menerima pekerjaan mereka, dan hanya 19% yang mencintainya. Anda akan mencapai kinerja yang luar biasa melalui orang-orang yang biasa saja hanya dengan menjadikan pekerjaan tampak menyenangkan.

1. Memberi reward yang sama kepada setiap orang.
Kebodohan nomer satu yang dilakukan manajer adalah memberikan reward yang
sama kepada setiap orang. Hal ini melanggar prinsip terutama dari manajemen:
reward harus sesuai dengan kinerja. Jika anda melakukan prinsip ini, anda
punya peluang untuk membentuk perusahaan sebagaimana yang anda inginkan.
Maka, lihat lagi bagaimana rewarding system anda, lalu pastikan bahwa
anggota team yang paling positif, energetik dan berkinerja tinggilah yang
mendapatkan reward dan penghargaan yang paling baik dan paling tulus,
dibanding sang biang kerok perusahaan anda.

Itulah 10 kesalahan dan kebodohan yang harus anda hindari jika anda ingin
membangun organisasi yang lebih produktif dan positif.

(Dirangkum dari: Wolf J. Rinke, PhD, CSP, Top 10 Stupidest Mistakes
Managers Make and How to Avoid Them)

Monday, December 7, 2009

Sudut Bahagia


Melek buat OL sampai dini hari kadang ada ga enaknya kalau pas ketemu orang yang super rese’ dan ngobrolnya ga jelas, tapi banyak juga orang baek yang senang berbagi inspirasi dan motivasi. Hatur thengkyu sob, untuk inspirasinya malam ini...

Bandung, dini hari 8 Desember ‘09

*******************************************************

Dimana Letak Bahagia Anda?

"Tempat untuk berbahagia itu ada di
sini. Waktu untuk berbahagia itu kini.
Cara untuk berbahagia ialah dengan
membuat orang lain berbahagia"
-- Robert G. Ingersoll

Budi, apakah saat ini merasa bahagia?

Di mana letak kebahagiaan Budi
sesungguhnya? Apakah pada moleknya
tubuh? ..Jelitanya rupa? Tumpukan
harta?

....atau barangkali punya mobil mewah &
tingginya jabatan?

Jika itu semua sudah Budi dapatkan,
apakah Budi bisa memastikan bahwa
Budi *akan* bahagia?

Hari ini saya akan mengajak Budi untuk
melihat, kalau limpahan harta tidak
selalu mengantarkan pada kebahagiaan

Dan ini kisah nyata...

Ada delapan orang miliuner yang memiliki
nasib kurang menyenangkan di akhir
hidupnya. Tahun 1923, para miliuner
berkumpul di Hotel Edge Water Beach
di Chicago, Amerika Serikat. Saat itu,
mereka adalah kumpulan orang-orang yang
sangat sukses di zamannya.

Namun, tengoklah nasib tragis mereka 25
tahun sesudahnya! Saya akan menyebutnya
satu persatu :

=> Charles Schwab, CEO Bethlehem Steel,
perusahaan besi baja ternama waktu itu.

Dia mengalami kebangkrutan total,
hingga harus berhutang untuk membiayai
5 tahun hidupnya sebelum meninggal.

=> Richard Whitney, President New York
Stock Exchange. Pria ini harus
menghabiskan sisa hidupnya dipenjara
Sing Sing.

=> Jesse Livermore (raja saham "The
Great Bear" di Wall Street), Ivar
Krueger (CEO perusahaan hak cipta),
Leon Fraser (Chairman of Bank of
International Settlement), ketiganya
memilih mati bunuh diri.

=> Howard Hupson, CEO perusahaan gas
terbesar di Amerika Utara. Hupson
sakit jiwa dan meninggal di rumah
sakit jiwa.

=> Arthur Cutton, pemilik pabrik tepung
terbesar di dunia, meninggal di
negeri orang lain.

=> Albert Fall, anggota kabinet
presiden Amerika Serikat, meninggal
di rumahnya ketika baru saja keluar
dari penjara.

Kisah di atas merupakan bukti, bahwa
kekayaan yang melimpah bukan jaminan
akhir kehidupan yang bahagia!

Kebahagiaan memang menjadi faktor yang
begitu didambakan bagi semua orang.

Hampir segala tujuan muaranya ada pada
kebahagiaan. Kebanyakan orang baru bisa
merasakan *hidup* jika sudah menemukan
kebahagiaan.

Pertanyaannya, di mana kita bisa
mencari kebahagiaan?

Apakah di pusat pertokoan? Salon
kecantikan yg mahal? Restoran mewah?
Di Hawaii? di Paris? atau di mana?

Sesungguhnya, kebahagiaan itu tdk perlu
dicari kemana-mana... karena ia ada
di hati setiap manusia.

Carilah kebahagiaan dalam hatimu!
Telusuri 'rasa' itu dalam kalbumu!
Percayalah, ia tak akan lari kemana-mana...

Hari ini saya akan berbagi tips
bagaimana kita sesungguhnya bisa
mendapatkan kebahagiaan *setiap hari*.

Berikut adalah tips yang bisa Budi
lakukan:

1. Mulailah Berbagi!

Ciptakan suasana bahagia dengan cara
berbagi dengan orang lain. Dengan cara
berbagi akan menjadikan hidup kita
terasa lebih berarti.

2. Bebaskan hati dari rasa benci,
bebaskan pikiran dari segala
kekhawatiran.

Menyimpan rasa benci, marah atau dengki
hanya akan membuat hati merasa tidak
nyaman dan tersiksa.

3. Murahlah dalam memaafkan!

Jika ada orang yang menyakiti, jangan
balik memaki-maki. Mendingan berteriak
"Hey! Kamu sudah saya maafkan!!".

Dengan memiliki sikap demikian, hati
kita akan menjadi lebih tenang, dan
amarah kita bisa hilang. Tidak percaya?
Coba saja! Saya sering melakukannya. :-)

4. Lakukan sesuatu yang bermakna.

Hidup di dunia ini hanya sementara.
Lebih baik Budi gunakan setiap waktu
dan kesempatan yang ada untuk melakukan
hal-hal yang bermakna, untuk diri
sendiri, keluarga, dan orang lain.

Dengan cara seperti ini maka
kebahagiaan Budi akan bertambah dan
terus bertambah.

5. Dan yang terakhir, Budi jangan
terlalu banyak berharap pada orang
lain, nanti Budi akan kecewa!

Ingat, kebahagiaan merupakan tanggung
jawab masing-masing, bukan tanggung
jawab teman, keluarga, kekasih, atau
orang lain.

Lebih baik kita perbanyak harap hanya
kepada Yang Maha Kasih dan Kaya.

Karena Dia-lah yang menciptakan kita,
dan Dia-lah yang menciptakan segala
'rasa', termasuk rasa bahagia yang
selalu Budi inginkan. ^_^'

Sunday, November 29, 2009

Rindu


Kutitipkan helai rabithoh pada desir angin,

Kusematkan setangkai rinduku pada ranting berembun yang syahdu,

Kumunajatkan segala asa pada temaran purnama,

Kurangkaikan mimpi menembus dingin yang membeku menelusuk kedalam relung jiwa,

Dan pada ke-Agungan-Nya, ku sampaikan dalam doa




Medio Juli 2009, Tengah malam baru saja berlalu di Ciloto

Wednesday, November 25, 2009

[Resensi] Negeri 5 Menara


Sore itu rencananya saya sekedar ‘bertamasya’ di toko buku sembari menunggu waktu berbuka. Sebenarnya juga saya sedang menahan diri untuk berkunjung ke toko karena lagi ‘puasa’ belanja buku dengan alibi lagi mau pengiritan, tapi kenyataannya ga bisa juga meskipun kalau diitung-itung sudah lebih dari 1 bulan saya sama sekali tidak berkunjung ke toko buku. Hehehe..terpaksanya waktu beli buku kemaren nitip temen yang beliin. Anehh

Deretan buku baru memenuhi rak depan pintu masuk namun setengah jam pertama saya berhasil menahan diri untuk mengambil beberapa buku baru yang menarik buat saya. Sampai akhirnya tangan saya memegang dua buah buku [novel dan komik] serta satu buku untuk catatan harian yang bentuknya unik.

Saya akan coba resensikan dua buku itu dalam dua tulisan terpisah. Pertama tentang novel yang saya beli. Judulnya “Negeri 5 Menara” karya A. Fuadi, mantan wartawan TEMPO dan VOA, penyuka fotografi, yang kini menjadi direktur komunikasi di sebuah NGO konservasi. Beliau alumni Pondok Modern Gontor, HI Unpad, George Washington University, dan Royal Holloway, University of London.

Novel ini menceritakan tentang seseorang yang bernama Alif. Ceritanya sendiri diangkat dari kisah nyata si penulis. Seumur hidupnya Alif tidak pernah menginjak tanah diluar ranah Minangkabau. Masa kecilnya dilalui dengan berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, main bola di sawah dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba dia harus melintasi punggung Sumatera menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya pengin dia menjadi Buya Hamka walaupun Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.

Di hari pertama di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dipersatukan oleh hukum jewer berantai, Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid, mereka menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang beranjak ke ufuk. Awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Ke mana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: jangan pernah remehkan impian,walau setinggi apapun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Sejak cetak pertama Juli 2009, buku ini telah cetak ulang sebanyak dua kali yaitu pada bulan Oktober di tahun yang sama. Buku ini sendiri konon katanya satu dari Trilogi Novel karya A. Fuad yang rencana akan segera di-film-kan. Dalam sampul depan cetakan ketiga tertuliskan “Rp. 1.000 dari penjualan buku ini disumbangkan untuk korban Gempa Sumatera”. So kesempatan buat pembaca yang suka beramal sekaligus melengkapi koleksi perpusatakaan pribadinya. Selain itu setengah dari royalti buku ini juga disumbangkan untuk Komunitas Menara, sebuah organisasi sosial berbasis volunteerism yang ingin menyediakan sekolah, perpustakaan, klinik dan dapur umum gratis bagi kalangan yang tidak mampu. Harga novel ini Rp 50.000 diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.


Selamat membaca dan semoga mengnspirasi ^-^

Sunday, September 13, 2009

[Catcil] Jogokaryan: sebuah mimpi yang tertunda


Setelah terpaksa beristirahat satu malam di kamar kantor, ahad pagi saya tekadkan bahwa saya harus dapat kamar kos. Cerita soal kamar kos membuat saya ingin meneteskan airmata dan mengingatkan saya pada sebuah mimpi saya terdahulu.

Saat dulu saya aktif sebagai remaja masjid di Semarang, saya mengenal yang namanya Masjid Jogokaryan Jogja. Saat itu saya tidak pernah sekalipun melihat bentuknya seperti apa masjid Jogokaryan itu. Yang saya dengar adalah tentang keberhasikan masjid itu dalam menjalankan fungsi dakwahnya, fungsi masjid sebagai pusat pemberdayaan umat dan masjid yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya. Sehingga masjid benar-benar menjadi rahmatan lil alamin danpusat kebaikan ditebar. Saya mendengar kiprah masjid Jogokaryan dari senior saya di remaja masjid yang pernah berkunjung kesana dan beberapa kenalan sesama remaja masjid yang pernah kesana saat itu.

Cerita-cerita yang saya dengar tentang masjid Jogokaryan ternyata telah menyihir saya, membius saya menjadi bemimpi untuk suatu waktu bisa menikmati kesejukan dan keberhasilan dakwah dimasjid tersebut. Dan mimpi saya saat itu adalah bisa menikmati suasana ramadhan yang agung di masjid itu, bisa mabit atau iktikaf barang sehari atau dua hari disana. Namun saat itu, mimpi tinggal lah mimpi. Karena aktifitas perkuliahan saya saat itu tidak memungkinkan untuk saya tinggalkan. Karena bagaimanapun kuliah adalah amanah utama saya dari orang tua selain mengembangkan diri dari jalan yang lain.

Dan saya baru tersadarkan, saat saya dihubungi oleh temen-temen di cabang bahwa saat itu sedang dicarikan kos-kosan di daerah Jogokaryan karena memang lokasinya cukup dekat dengan kantor, cuma sekira 5 menitan dengan sepeda motor dan kalaupun tidak memakai sepeda motor bisa naek angkutan umum [bus kota] dari depan gang dan turun langsung di depan kantor. Saya terhenyak, merinding dan terharu saat berita itu saya terima [haiyah, lebay ga sih?]. Bahwa saya akan dicarikan kos-kosan daerah Jogokaryan. Selama ini saya cukup sering berkunjung ke kantor Jogja, tapi saya tidak pernah tahu kalau ternyata dekat dengan tempat yang dulu pernah menjadi mimpi saya.

Siang hari pertama saya tiba di Jogja adalah memfix-kan kamar kos untuk saya tempati. Ada beberapa lokasi alternatif yang sudah dicarikan oleh Pak Sigit, security kantor. Namun kesemuanya tidak ada yang cocok. Ada yang karena harga, fasilitas, jarak dan lain sebagainya yang membuat saya tidak setuju. Sampai akhirnya saya merasa hampir putus asa. Akhirnya saya minta dicarikan didaerah yang lumayan masih dekat dengan Jogokaryan sekita 5 menit dari masjid dengan sepeda motor yaitu daerah Danunegaran. Letaknya jauh lebih dekat dengan kantor. Namun entah kenapa, sampai malam itu saya masih sangat yakin bahwa saya akan dapat kamar kos didekat masjid Jogokaryan. Sampai dengan Ahad pagi, keyakinan itu masih melekat meskipun Pak Sigit menyampaikan bahwa seluruh daerah Jogokaryan dan Danunegaran sudah dicari bahkan minta bantuan teman-temannya yang tinggal daerah situ namun tidak ada juga.

Tanpa bermaksud tidak mempercayai dengan apa yang disampaikan oleh Pak Sigit, pagi-pagi saya keluar dan menuju langsung ke Jogokaryan. Saya sisir satu persatu gang yang paling dekat dengan masjid. Saya bertanya pada orang yang kebetulan ada ditepian jalan gang. Saya tanyakan apakah ada kamar kos daerah situ? Saya datangi satu persatu rumah yang direferensikan oleh orang yang saya tanyai. Namun hasilnya nihil. Sampai akhirnya saya memutar sekali lagi ke gang yang berada di depan masjid Jogokaryan. Terkaget saya saat melihat sebuat rumah berlantai dua yang bertuliskan didepan pagarnya “Terima Kos Muslim”. Saya pun tidak berfikir lama, kemudian saya ketuk rumah itu dan ditemui oleh seorang mbak-mbak. Saat saya tanyakan masih ada kamar kosong, mbak-nya cuma jawab tidak tahu, coba saya tanyakan ke ibu kata si mbak tadi. Jawaban itu membuat saya deg-degan [yailah namanya juga orang hidup, pasti jantungnya kan berdenyut]. Tiba-tiba saya agak lemes [bukan karena puasa], karena saya khawatir kalau ternyata sudah penuh dengan kata lain saya harus mutar-mutar lagi nyari kamar kos.

Tidak lama kemudian keluar dari rumah itu seorang ibu-ibu yang menurut saya tergolong dalam kategori lansia. Terlihat dari raut wajahnya dan kerutan-kerutan dikening, pipi dan telapak tangannya. Dengan santun ibu itu menyapa saya dengan bertanya adik dari mana? Kerja atau kuliah dimana? Saya tidak langsung menjawab tapi saya justru tersenyum dan perlahan saya menundukkan badan saya sebagai bentuk penghormatan saya kepada ibu itu. Ini ajaran keluarga saya, kalau sedang berbicara dengan orang yang jauh lebih tua maka tundukkanlah badanmu minimal sejajar dan bagus lagi lebih rendah dari lawan bicara [mirip orang jepang lah]. Setelah itu saya baru jawab dengan menyebutkan nama dan pekerjaan.

Betapa senangnya saat ibu itu berkata bahwa masih ada 3 kamar kosong dan lebih senang lagi saat mendengan harga kamarnya disebutkan. Hahhh Cuma 150.000? Maklum, di Bandung harga paling murah untuk sebuah kamar kos sekitar 300 ribuan dan itu ukurannya cukup kecil. Saya lebih heran lagi saat diajak melihat kamar-kamar itu. Lokasinya berada di belakang rumah induk, kalau di Bandung pemilik menyebutnya dengan istilah paviliun. Ukuran kamarnya? Waouuu luas cuyyy. Sekira 3x2,5 m, bisa lebih. Bahkan menurut saya cukup untuk ditempati pasangan muda yang baru punya anak satu dengan kata lain terlalu luas untuk ditinggali seorang diri dengan perkakas yang minim.

Setelah melihat, akhirnya saya memilih satu kamar yang terletak ditengah diantara 3 kamar yang masih kosong. Kemudian ibu itu berjanji akan segera dibersihakan disiapkan untuk bisa segera ditempati. Siang harinya saya kembali datang, subhanalloh kamar sudah siap dengan kasur dan furniture pelengkapnya meskipun saya harus mengepelnya ulang tapi tak mengapa, toh service yang diberikan sudah lebih dari cukup buat saya. Dan sore hari saya sudah bisa menempati kamar baru saya dengan nyaman, dan sore itu juga saya sudah bisa menikmati Kampoeng Ramadhan Jogokaryan yang sejuk dan religi.

Tentang siapa ibu kos saya, nanti akan saya ceritakan dalam tulisan berikutnya. Insyaalloh.

So, aku hanya ingin ngingetin ke diri sendiri dan siapapun yang baca tulisan ini. Hati-hatilah dengan pikirin dan mimpi anda. Jangan takut untuk bermimpi. Hari ini mungkin sesuatu yang sedang anda pikirkan hanya lah sebuah mimpi, namun tunggu dan lihatlah nanti akan tiba pada waktunya mimpi itu menjadi kenyataan.


Jogokaryan 8 Ramadhan 2009,
siang setelah selesai kajian bersama ustadz Abu Bakar Ba’asyir.
*tadi datang udah bubaran karena kelewat asyik nulis, tapi masih sempet jamaah dhuhur bareng beliau dan bonus jabat tangan^-^

Jogja: i’m coming


Sekedar refleksi perjalanan setelah sepekan ada di Jogja.
Cerita ini sendiri berawal dari sekitar awal juli yang lalu. Saat kami manajemen dipusat menerima surat pengunduran diri manager rumah bersalin cabang Jogja. Pengunduran diri itu karena yang bersangkutan akan menikah dan setelah itu mengikuti suami. Posisi manager buat kami posisi yang cukup strategis karenanya kami butuh perencanaan dan analisis yang cukup matang untuk menempatkan seseorang sebagai pengganti. Akan tetapi melihat waktu yang cukup mendesak dan relatif pendek maka diputuskanlah bahwa untuk sementara waktu akan ditugaskan orang pusat untuk meng-hadle beberapa waktu sampai dengan adanya SDM pengganti yang siap.

Beberapa nama pun muncul sebagai kandidat yang akan ditugaskan ke Jogja, salah satunya saya. Dan entah kenapa, saya tidak merasa sedikitpun keberatan seandainya saya memang harus ditugaskan ke Jogja. Meskipun konsekuensinya saya harus meninggalkan Bandung dan berjuta kebahagiaan yang selalu hadir menyertai saya selama saya tinggal. Dan saya cenderung ambisius untuk segara diberangkatkan ke Jogja. Banyak yang menarik buat saya yang terfikirkan saat itu kalau memang saya jadi ke Jogja.

Pertama, saya merasa bahwa aktifitas saya selama di Bandung sudah mulai stagnan dan saya merasa bahwa saya perlu hal-hal baru yang bisa menginspirasi atau menambah kebaikan untuk diri saya dan amanah-amanah yang saya emban. Kedua, selama ini saya hanya bertugas dibalik meja, didepan monitor tanpa saya tau seperti apa permasalahan yang sebenarnya dengan kebijakan-kebijakan yang kami orang-orang pusat buat. Sehingga dengan saya pernah merasakan memimpin cabang secara langsung, saya bisa merasakan secara real, kenyataan dilapangan dalam mengimplementasikan sebuah kebijakan yang dibuat dan itu sebuah masukan yang sangat berarti saat saya kembali bertugas di pusat nanti. Dan ketiga, saya butuh suasana baru dan ruang waktu yang berbeda untuk menyusun kembali rencana-rencana hidup saya yang tertunda, menata kembali cita-cita. Dan muhasabah diri, terhadap apa yang sudah saya kerjakan selama ini.

Jogja: i’m coming

Akhirnya awal agustus keputusan kapan saya harus berangkat ke Jogja diputuskan bersamaan dengan diterbitkannya surat tugas. Per tanggal 22 Agustus, saya diminta sudah berkantor di Jogja. Awalnya saya akan berangkat per tanggal 7 Agustus sekaligus menghadiri acara milad kedua kantor cabang dan hari ahadnya menghadiri pernikahan manager cabang yang mengajukan resign tadi. Namun karena satu dan lain hal, rencana itu ditunda dan yang hadir ke Jogja akhirnya dokter Yudi selaku pimpinan kami.

Dengan tekad yang bulat, jumat 21 Agustus pagi saya memesan satu kursi travel untuk keberangkatan malamnya. Karena sudah cukup dekat dengan perusahaan travel tersebut, pagi-pagi itu saya telpon langsung ke pemiliknya, meskipun dijawab kantor belum buka namun si pemilik menyanggupi pesanan saya itu dan berjanji nanti akan ada petugasnya yang akan menghubungi saya kembali setelah jam kantor buka. Dan benar, selepas acara brifing pagi dikantor, seorang petugas dari perusahaan travel tersebut menghubungi saya dengan mengatakan bahwa sudah dicatatkan nama saya dalam daftar penumpang yang akan diberangkatkan malan nanti dengan jurusan Bandung-Jogja. Yang menarik lagi, saya masih dapat kursi nomor 3, ini deretan kursi favorit untuk kita yang terbiasa naik travel karena deretan kursi nomor 2-3-4 [untuk travel yang satu barisnya isi 3] ini mempunyai jarak dengan kursi depannya yang lebih longgar sehingga kaki kita akan lebih nyaman untuk digerakkan ketimbang deretan kursi-kursi dibelakangnya.

Alhamdulillah, saya merasa lega saat sudah dapat kepastian tiket travel, artinya persoalan transportasi sudah teratasi. Kemudian karena saya tipe orang yang suka kluyuran alias jalan-jalan, maka saya rasa si Belalang Tempur, motor tercinta [emang, karena motor atu-atunya] wajibun dan kudubun harus menyertai saya selama saya bertugas di Jogja nanti. Akhirnya sore itu saya datang ke stasiun untuk mengirimkannya berangkat ke Jogja. Saya memilih menggunakan ekspedisi kerata api karena relatif lebih aman dan cepat. Sesampai distasiun saya langsung disamperin oleh seorang karyawan perusahaan ekspedisi. Dan saya langsung sapa dengan mengatakan bahwa saya mau kirim motor ke Jogja dengan catatan besok pagi harus sudah sampai. Pihak ekspedisi mengiyakan, kemudian saya menandatangani slip pengiriman barang. Karena saya masih eman banget dengan si Belalang Tempur [maklumlah masih baru coy], saya minta untuk di packing meskipun resikonya saya harus keluar kocek lebih untuk biaya packing. Ah ga papa batin saya, yang penting si Belalang Tempur aman. Jangan sampai nanti sesampainya di Jogja body-nya lecet-lecet. Huhhh...

Tidak lebih dari 10 menit, saya tengok ke ruang belakang dari perusahaan ekspedisi itu, si Belalang Tempur sudah terbungkus rapi bahkan hampir tidak terkenali. Terus saya cek ke petugas yang packing apakah bensinnya sudah dikeluarkan atau belum karena kalau ada bensinnya cukup berbahaya bisa menyebabkan kebakaran karena suhu ruang gerbong kereta. Perusahaan ekspedisi yang sudah berpengalaman harusnya sudah tahu tentang prosedur ini [mengosongkan tangki BBM motor yang dipaketkan]. Alhamdulillah akhirnya urusan si Belalang Tempur selesai. Saya kembali lagi ke kantor. Karena masih ada beberapa hal yang harus saya kerjakan sebelum saya tinggalkan Bandung.

Sesampainya dikantor, saya kerjakan beberapa tugas yang belum selesai dan terutamanya memindahkan seluruh data dari PC saya ke Hardisk eksternal. Selain pekerjaan kantor, saya juga menghubungin beberapa teman dan kolega yang selama ini berhubungan dengan saya untuk beberapa pekerjaan atau kegiatan diluar kantor. Salah satunya adik-adik TPA yang rajin datang belajar baca tulis al quran. Setalah beres, saya segera kembali ke kosan untuk packing barang-barang yang akan saya bawa ke Jogja nantinya, sembari menunggu proses pemindahan data yang lumayan lama karena saking banyak dan besarnya file.

Sekitar pukul 18.30 urusan packing selesai, saya segera pergi ke depan gang untuk memanggil becak yang akan mengantar saya membawa barang dari kosan ke kantor, karena saya janjian dengan travel untuk dijemput di kantor yang jaraknya tidak begitu jauh dari kosan. Sampai dengan pukul 19.30an data yang saya transfer belum juga selesai, mulai lah rasa cemas itu muncul karena kalau sampai travelnya datang berarti saya harus meng-cancel proses transfer data tersebut. Dan kecemasan itu terjadi. Di layar saya lihat proses baru berjalan sekitar 40% dan sangat tidak mungkin kalau saya harus meminta travelnya menunggu. Akhirnya dengan terpaksa saya cancel proses pemindahan data itu. Fiyuhhhh

Beres itu semua, saya pamitan ke security dan masuk ke travel yang akan mengantarkan saya ke Jogja. Kaget saya waktu saya masuk, ternyata penumpangnya cuma satu dan menjadi dua dengan saya. Weleehh..weleehhh gumam saya, tapi ini seperti rejeki nomplok buat saya, karena selain kendaraan jadi lega, kami [penumpang] akan lebih leluasa mengatur perjalanan [kapan berhenti? Kapan makan?] apalagi ini hari pertama ramadhan, saya pribadi tidak ingin kehilangan momen atau start bulan ramadhan ini dengan melewatkannya begitu saya semisal soal tarawih dan sahur karena harus berangkat selepas isya’ dan baru sampai selepas subuh.

Setelah ada kesepakatan dengan penumpang yang satunya, kami putuskan untuk mampir sholat malam dan sahur di karanganyar daerah setelah kebumen kalo menuju ke Jogja dari Bandung. Alhamdulillah kami masih berkesempatan menikmati hari pertama ramadhan tahun ini meskipun menikmatinya di perjalanan tidak seperti biasanya dengan keluarga [orang tua maksudku]. Kasihan lagi penumpang satunya, dia ternyata selama ini meninggalkan anak istrinya di Jogja karena dia sendiri sedang mengambil program S2 di Unpad Bandung, dan baru bisa pulang ke Jogja dua pekan sekali. Dan hari itu beliau pulang untuk menikmati hari pertama ramadhan bersama orang-orang yang beliau sayangi. Huhhhh...jadi ilmu baru nih. Saat aku berkeluarga kelak, harus siap kalau terpaksa harus terpisahkan oleh jarak dan waktu dengan anak dan istri.hekeekeke...*naudzubillah..

Alhamdulillah, karena penumpangnya cuma dua orang, sekitar pukul 05.30 saya sudah sampai di kantor cabang Jogja. Karena kamar kos yang saya pesan belum fix maka saya memilih untuk transit dan istirahat sementara di ruang istrirahat kantor. Meskipun kamarnya kecil, tapi lumayanlah untuk sekedar merebahkan badan melepas lelah sepanjang 9 jam perjalanan Bandung-Jogja sebelum mengawali aktifitas hari itu.


Jogokariyan, 8 ramadhan 2009