Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Wednesday, November 25, 2009

[Resensi] Negeri 5 Menara


Sore itu rencananya saya sekedar ‘bertamasya’ di toko buku sembari menunggu waktu berbuka. Sebenarnya juga saya sedang menahan diri untuk berkunjung ke toko karena lagi ‘puasa’ belanja buku dengan alibi lagi mau pengiritan, tapi kenyataannya ga bisa juga meskipun kalau diitung-itung sudah lebih dari 1 bulan saya sama sekali tidak berkunjung ke toko buku. Hehehe..terpaksanya waktu beli buku kemaren nitip temen yang beliin. Anehh

Deretan buku baru memenuhi rak depan pintu masuk namun setengah jam pertama saya berhasil menahan diri untuk mengambil beberapa buku baru yang menarik buat saya. Sampai akhirnya tangan saya memegang dua buah buku [novel dan komik] serta satu buku untuk catatan harian yang bentuknya unik.

Saya akan coba resensikan dua buku itu dalam dua tulisan terpisah. Pertama tentang novel yang saya beli. Judulnya “Negeri 5 Menara” karya A. Fuadi, mantan wartawan TEMPO dan VOA, penyuka fotografi, yang kini menjadi direktur komunikasi di sebuah NGO konservasi. Beliau alumni Pondok Modern Gontor, HI Unpad, George Washington University, dan Royal Holloway, University of London.

Novel ini menceritakan tentang seseorang yang bernama Alif. Ceritanya sendiri diangkat dari kisah nyata si penulis. Seumur hidupnya Alif tidak pernah menginjak tanah diluar ranah Minangkabau. Masa kecilnya dilalui dengan berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, main bola di sawah dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba dia harus melintasi punggung Sumatera menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya pengin dia menjadi Buya Hamka walaupun Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.

Di hari pertama di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dipersatukan oleh hukum jewer berantai, Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid, mereka menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang beranjak ke ufuk. Awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Ke mana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: jangan pernah remehkan impian,walau setinggi apapun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Sejak cetak pertama Juli 2009, buku ini telah cetak ulang sebanyak dua kali yaitu pada bulan Oktober di tahun yang sama. Buku ini sendiri konon katanya satu dari Trilogi Novel karya A. Fuad yang rencana akan segera di-film-kan. Dalam sampul depan cetakan ketiga tertuliskan “Rp. 1.000 dari penjualan buku ini disumbangkan untuk korban Gempa Sumatera”. So kesempatan buat pembaca yang suka beramal sekaligus melengkapi koleksi perpusatakaan pribadinya. Selain itu setengah dari royalti buku ini juga disumbangkan untuk Komunitas Menara, sebuah organisasi sosial berbasis volunteerism yang ingin menyediakan sekolah, perpustakaan, klinik dan dapur umum gratis bagi kalangan yang tidak mampu. Harga novel ini Rp 50.000 diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.


Selamat membaca dan semoga mengnspirasi ^-^

Wednesday, December 10, 2008

Maryamah Karpov: Kalo rejeki ya ga lari…


Sebagian kita pasti tahu Andre Hirata, ya minimal pernah denger lah nama itu. Ia terkenal dengan tetralogi Laskar Pelangi-nya yang semakin booming setelah kemunculan filmnya “Laskar Pelangi” yang diangkat dari kisah novel itu sendiri. Film Laskar Pelangi yang mengisahkan 12 anak dalam perjuangannya menuntut ilmu kini telah ditonton oleh 4,2 Juta orang. Sejak awal pemutarannya tanggal 25 September 2008, film ini memang diramalkan akan menjadi salah satu film terlaris (sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/22/11125562/Laskar.Pelangi). Bahkan sampai hari ini, film ini juga masih diputar di bebepa bioskop di Bandung.


Yang unik lagi, buku ke Empat yang berjudul : Maryamah Karpov. Meskipun buku itu baru dilounching November lalu, ia telah cetak ulang sebanyak dua kali dalam bulan yang sama. Bahkan saat terbit perdana Novel ini terjual sebanyak 30 eksemplar tiap jamnya. Jutaan penggemarnya jadi penasaran gara-gara penerbit telah mencantumkan sampulnya pada buku-buku terdahulu. Sebuah manajemen pemasaran yang cukup unik. Dan saya termasuk salah satu ”korban”nya.


Saya cukup penasaran dengan novel itu, karena ingin tahu seperti apa sebenarnya ending dari cerita yang diangkat oleh Andre. Semakin penasaran lagi karena selama novel itu ”semedi” menunggu terbit, sangat sedikit sekali klub-klub sastra atau majalah sastra yang membahas tentang buku tersebut. Ya maksud saya minimal bocoran ceritanya lah. Bahkan milis yang saya ikuti pun ga pernah membahas tentang novel tersebut.

Senang juga saat November lalu seorang temen di milis kontak saya dan dia cerita kalo Novel Maryamah Karpov dah dilounching di Bali dan lebih seneng lagi dia bilang saya dah di inden-kan satu oleh dia. Wah senengnya, bakal dapet buku perdana, gratis lagi. Gumam saya waktu itu. Tapi belakangan agak ”kuciwa”, indennya batal karena satu dan lain hal. Orang Jawa bilang ”gelo”(nyesel_red). Yah, ga jadi dapet buku perdana. Tapi saat itu saya yakin bahwa kalo rejeki ya ga lari. Alloh pasti akan menggantinya dengan jalan yang lain. Kan rejeki itu Alloh yang kasih dan terkadang dari arah yang tak pernah kita sangka.


Ahad, sepulang buka puasa di Es teller 77 keponakan ngajak mampir ke Salemba. Lihat-lihat buku Om. Tapi saya jawab lagi ga ada budget buat beli buku, emang bulan ini lagi banyak pengeluaran lain. Meski agak males saya ikuti permintaan dia untuk mampir ke Salemba. Sehabis keponakan saya yang SD menyabet satu komik Avatar kesukaannya, kami pun langsung keluar untuk pulang. Pas jalan di depan toko, keponakan saya menunjuk sebuah Novel yang ter-display di etalase depan. Om itu kan Maryamah Karpov. Huwa...mau banget. Bisik saya. Langsung saya berbalik kembali menuju kedalam toko.


Wah sayang uang pas-pasan. Melihat gelagat saya celingukan ngubek-ngubek saku dan dompet, keponakan saya yang SMA menyodorkan uang 100 ribuan selembar. Ini uang sisa order kaos kemarin kata dia. Oia saya lupa kalo dia masih megang uang saya waktu kirim kaos kemaren dari Bandung. Subhanalloh pas banget. Pas lagi pengin punya novel, pas lagi ga ada budget, eh pas juga ada yang ngasih duit pelunasan. Ah kalo rejeki ga akan lari...


Kini novel setebal 504 halaman isi itu menjadi temen keseharian saya mengisi waktu luang sejak dua hari lalu. Menemani perjalanan saya Pekalongan-Bandung kemaren. Bahkan bakal jadi temen yang asyik saat nyantai sore hari di teras Masjid Salman. Mungkin bisa 2 pekan saya baru selesai baca. Maklum, kecepatan baca saya sekarang menurun, banyak faktor lah. Jadi dari 73 Mozaik yang diceritakan saya baru baca Mozaik pertama,...he...he...kasihan dah gue, kapan bisa selesai? Padahal yang ngantri mo minjam dah ada.


” Jika dulu aku tak menegakkan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini: sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop menghadapi gunungan timah, mengumpulkan napas, menghela tenaga, mencedokinya dari pukul depalan pagi sampai magrib, menggantikan tugas ayahku, yang dulu menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib kepada ayahku dan kepada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpiku. Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani.”


keberanian dan keteguhan hati telah membawa ikal pada banyak tempat dan peristiwa. Sudut-sudut dunia telah dikunjungi demi menemukan A Ling. Apapun Ikal lakukan demi perempuan itu. Keberaniannya ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali?


Kedua paragrah diatas saya kutip dari sampul belakang Novel Maryamah Karpov. Novel ini menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi, A Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam cerita sebelumnya. Tetap dengan sihir kata-katanya, Anda akan dibawa Andrea pada kisah yang menakjubkan sekaligus mengharukan (kutipan sampul belakang). Oia, sebagai tambahan Informasi, harga Novel ini 79.000 rupiah dan tersedia di berbagai toko buku ternama seperti Gunung Agung, Toga Mas, Gramed,dll. Ga tahu di Palasari Bandung dan Pasar Johar Semarang mungkin juga ada. Selamat membeli dan Membaca n Say No To ”Bajakan”!




Regard,




Budi Santoso

http://www.rumahzakat.org/